Intania Kirana

Rabu, 09 Januari 2019

Memutuskan menerima pinangan suami dengan kondisi masih jauh dari kemapanan itu memang bisa dikatakan uji nyali sekali. Selama ini aku mikir kehidupan setelah menikah itu akan bahagia, penuh canda tawa, dan mesra aja gitu tanpa ada konflik. Ternyata ya, empat tahun menjalaninya tuh lebih dari itu. Dramanya ada aja setiap hari, tawa ada, tangis ada, kecewa juga ada bahkan pernah bilang nyesel aja gitu. Jahat kan aku sebagai istri.


Itulah kenapa aku memaksa papa untuk nurutin nonton film Keluarga Cemara di awal tahun 2019 ini. Film yang sering sekali aku tonton di TV zaman aku kecil dulu, dan membekas banget sampai sekarang. Ya, aku masuk dalam jajaran anak generasi 90an yang bahagiaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget karena tayangan di TV masih sangat minim dengan azab-azabnya itu. Dan Keluarga Cemara jadi tontonan edukatif di zaman kecilku. 


Yang melekat banget adalah Abah sekuat tenaga berjuang demi keluarganya dengan becak tuanya itu. Emak yang penuh dengan kehangatan dan kesabaran, Euis yang berjualan opak di sekolah, Ara yang begitu polosnya juga Agil si kecil yang manjaaa banget apalagi sama Abah. Iya, zamanku sudah ada Agil di Keluarga Cemara. 


Tapi yang aku tonton kemarin adalah kemasan Keluarga Cemara era kekinian. Abah tak lagi narik becak, tetapi narik Gojek. Sementara ukuran opak yang digoreng emak dan kemudian dijual Euis lebih kecil seperti emping. Tapi, tidak merubah esensi nilai yang ingin disampaikan bahwasanya keluarga adalah segalanya. #KembaliKeKeluarga


Heartwarming and Verry Touching

Memang sosok Abah dengan segala perjuangannya itu membekas banget diingatanku, Emak dengan penuh kesabarannya mendapingi Abah dalam kondisi yang benar-benar dibawah. Perusahaan Abah bangkrut sehingga rumah di sita dan mereka memutuskan pindah di pinggiran Bogor dan tinggal di rumah warisan Aki dan Nini. 


Gejolak pun terjadi pada Euis yang masih terus berjuang untuk beradaptasi dengan keadaan keluarga yang baru. Beberapa kali Euis merasa kecewa karena janji Abah yang tidak ditepati. Seperti saat lomba dance dan Abah nggak datang, Dan ulang tahun ke 13 juga Abah nggak datang. Sedangkan Ara, dia tetaplah seorang anak dengan penuh keceriaan dan kepolosan yang memberi warna tersendiri di keluarga itu. 


Tapi disini aku trenyuh sama Abah dan Emak. Abah tetap mengupayakan demi keluarga. Sementara Emak, nggak tau juga hati emak terbuat dari apa. Sebegitu tegarnya menghadapi masalah dalam keluarga, mendukung setiap keputusan Abah bahkan ada satu scene yang bikin aku bener-bener nangis sesenggukan ketika Emak bilang kurang lebih seperti ini... "tapi satu yang pasti, Bah. Emak tidak pernah  menyesal."aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... nangis dah tuh dan ternyata papa juga nangis. hahaha.


Nonton Keluarga Cemara memang emosional banget serasa hati diaduk-aduk banget lah ya. Ada bahagia, haru, sedih, bahkan sebentar ngakak gara-gara si Loan Woman yang diperankan oleh Asri Welas, dan beberapa kameo yang ternyata dari stand up comedy. Tetiba ada luapan emosi yang bikin air mata ini nggak bisa di tahan, adegan emosional lainnya adalah dimana Euis ultah yang ke 14 lalu Abah bawain kue lengkap dengan lilin putih di lobi rumah sakit. Nggak tau, begitu Euis balik badan eh udah nangis aja akutu. Nggak salah memang aku siapin tisu dari rumah. 


Kubilang ini film memang heartwarming banget dan sangat menyentuh perasaan banget. Kebahagiaan keluarga bukan semata dari duit, tapi dari kebersamaan dan saling menguatkan satu sama lain. Apalagi melihat akting para pemainnya ini aku rasa pas banget dan chemistry nya dapet banget. Bahasa yang digunakan juga sederhana terlebih Ara yang diperankan oleh Widuri Putri. Aku lihat Ara bukan lagi berakting tapi seperti di kehidupan real gitu, lucu, polos, dengan celotehan khas anak-anak. Ya, nggak jauh lah ya dari Bapaknya yang mana mas Dwi Sasono ini aktor jempolan. Suaranya Widuri juga sebagus ibunya. Duh dek... bulik yakin suatu hari kamu akan jadi aktris terkenal. amin. 


Dan sosok Abah yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman. Gile deh aktingnya total banget kayak gitu. Bawaannya lihat Agus Ringgo itu ngakak aja, lha ini dia jadi abah kenapa jadi ikutan rada melas sih. hahaha. Secara keseluruhan memang aktingnya juara!!!! Emak, Euis, Ceu Salma dan teman-teman Euis juga keren. Bu Guru Seni Ara juga ngagetin banget. Lha, Ara adu akting sama ibunya sendiri woy. hahaha. Gading Marten juga nih, cocok jadi pak guru beneran. hahaha. 


Ornamen lain yang bikin film ini makin greget dan nostalgic banget adalah theme song nya. Suara BCL alias Bunga Citra Lestari bisa santai dikit nggak seeeeehhh??? Lagi denger "harta yang paling berharga...."udah sesek aja ini dada dan nangis. Iya, secengeng ini aku nonton Keluarga Cemara. 


Kata papa sih, memang ini film recomended untuk ditonton rame-rame sama keluarga. Terkhusus aku nih, papa bilang harus sering lihat film dengan tema seperti ini. Nggak tahu juga apa karena mungkin kondisinya hampir sama dengan keluarga kami yang belum mapan dan harus berjuang lebih keras lagi. Yang jelas banyak sekali pembelajaran untuk keluarga kami. 


8,5 / 10 untuk film ini. Endingnya lebih greget lagi donk. Ara narinya kurang lama. hahaha. Dan makasih loh, Abah ada di kursi penonton. Jadi nonton pentas seni Ara lengkap formasinya. 

Kan aku jadi ngayal... nanti kalau Intan pentas di sekolah harus ada Emak bapaknya juga di kursi penonton. Jadi suporter paling heboh pokoknya. 

So guys, datang ke bioskop. Selamat bernostalgia bersama film Keluarga Cemara. 

Senin, 31 Desember 2018