Drama Memulai dengan Pengasuh - Intania Kirana

Kamis, 19 Januari 2017

Drama Memulai dengan Pengasuh



 [CURHAT]
Alhamdulillah ibu pulang dari RS setelah seminggu di opname. Waktu itu saya belum menetapkan untuk memilih dua kandidat pengasuh mana yang akan saya pilih. Tidak memungkinkan jika saya harus ijin kesekian hari dalam waktu 1 minggu. Disaat posisi Intan tertidur, padahal udah mandi. Saya gendong dia dan dibonceng suami menuju ke sekolah. Di perjalanan kami memutuskan “ya sudah.. Intan di rumah ibunya mas Galih aja.”


Jika dibilang kami orang tua tega, itu salah. Saya menangis. Sepanjang jalan menangis, menitipkan anak yang masih tidur pun sambil menangis. Dan sampai sekolah air mata saya nggak bisa berhenti terlebih saat teman-teman menanyakan kondisi ibu dan diakhiri pertanyaan “Intan sama siapa sekarang?”. Dodolnya sih mau curhat malu, jadi nulis aja disini dan saya ngetik ini aja ada drama nangis-nangis. Maklumlah saya deretan melankolis parah. 

Drama rengekan dan nangisnya Intan pecah lagi ketika saya datang di jam menyusui. Saya perkenalkan dia dengan keluarga barunya, saya sounding pelan-pelan supaya nggak rewel, dan saya yakinkan persaan dia kalau memang mama akan tetap mengasuh kamu sekalipun mama ngajar. Kesannya imposible kan ya, tapi saya sih percaya kalau Intan pasti ngerti dan ngrasain juga apa yang saya rasakan. Bahkan drama rewel dan nangis itu berlangsung selama hampir satu minggu. Begitupun saya, memantapkan hati dan perasaan juga butuh waktu banget. Jadi awal-awal saya menitipkan Intan begitu balik badan pasti akan nangis bombay sampai bedak luntur semua. Haha... 

Sebenarnya rugi juga sih saya terus baper begitu. Karena dengan kebaperan saya malah membuat Intan nggak nyaman dan rewel. Sampai di minggu kedua kami mulai sama-sama menerima kenyataan bahwa inilah pilihan keluarga kami. Ini yang harus kami hadapi, dan kami harus menutup telinga dari perkataan sinis orang-orang. Ya.. gini-gini udah banyak yang cicicuit soal kehidupan kami lho. Berasa selebritis kan ya. 

Buat Intan kalau nanti kamu udah besar dan bisa baca ini...

Mama minta maaf, begitupun papa. Kami harus mengajak kamu sekecil ini merasakan beratnya hidup. Tapi Intan percaya kan kalau kami akan tetap berusaha menjadi orang tua terbaik untuk Intan. Kewajiban kami dititipi amanah dari Allah sebisa mungkin kami jalankan. Mama sering ngrasa nggak mampu menjalani ini. Melihat dan menyertakan kamu dalam setiap perjalanan pagi yang dingin, merasakan panasnya terik matahari, tapi Intan jadi belajar bahwa hidup memang sejatinya adalah perjuangan. Alhamdulillah... keluarga ini selalu dimampukan dan dicukupkan lewat jalan yang nggak diduga. Maka dari itu, maafin mama dan papa kalau kami harus mengajari kamu untuk mandiri sekecil ini. Bahkan di perjalananmu menuju satu tahun kemarin. Tumbuh dan berkembanglah dengan semestamu ya, nak. kecup sayang mama papa buat Intan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar