[Parenting] : No Gadget Di Usia Dini - Intania Kirana

Senin, 13 Februari 2017

[Parenting] : No Gadget Di Usia Dini






Jadi, aku itu semacam phobia sama Intan dan lingkungan sekitarnya. Katakanlah yang paling dekat adalah keluarga. Tau donk ya kalau perkembangan teknologi itu melejit banget. Satu hal yang membedakan masa kecilku sama era Intan sekarang adalah anak kecil udah sangu gadget kemana-mana. Terlebih bagi mereka para anak yang memang sengaja difasilitasi sama orang tuanya. Kalau Intan memang biasa melihat aku sama papanya mainan hp. Jadi dia kadang minta semenjak udah bisa minta.


Nah, aku sendiri punya idealisme dalam pola asuh ke Intan (bahkan akan berlaku ke adik-adiknya juga). Kami sepakat sebisa mungkin jangan kenalin gadget dulu, tapi susah buat nggak dilakuin. Emm.. tepatnya kami sepakat untuk tidak memfasilitasi gadget di usia dini. Lho bukanya bagus kalau dikasih gadget biar anak jadi anteng? So what jika itu keputusan kalian hai para orang tua. Tapi bagi kami enggak! ENGGAK. Ada banyak cara supaya anak anteng meskipun tanpa gadget. 


Simple sih menurut kami, terlebih aku. Usia dia itu adalah usia eksplore dan menjelajah sebebas-bebasnya. Usia yang dikatakan emas banget buat pertumbuhannya. Kata ahli sih kita bisa memberikan stimulus yang bisa merangsang otak anak. Nah, apalagi pada dasarnya kan anak itu pintar. Jadi ya menurut aku lebih baik kalau berikan aja stimulus yang bisa merangsang pola pikir dan kreatifitas anak. Tanpa harus di nodai dengan gadget. 

Jadi selama aku bisa meminimalisir hp saat lagi sama Intan, sebisa mungkin akan aku lakuin. Atau bahkan nggak sama sekali. Baru setelah dia liyer-liyer  atau tidur akan jadi time yang pas buat main gadget. Susahnya itu papa, hp itu selalu di genggam termasuk kamar mandi. Padahal aku maunya kalau di rumah pas Intan belum tidur, ya udah kita ajak lah anak main bareng. Kalau dibilang sih momen buat meningkatkan bonding antara papa sama anak. Jadi aku maunya disini adalah anak paham bahwa keberadaan mereka itu juga butuh di prioritaskan tanpa terganggu dengan gadget. Dan disini orang tua juga kudu ngerti bahwa gadget itu memang nggak bisa gantiin apapun yang bisa orang tua berikan. Perhatian, kebahagiaan, kasih, sayang, lucu, sedih, dan apalah. 

Beruntungnya setelah aku coba kasih pengertian ke papa, pelan-pelan kami bisa sejalan menerapkan kebiasaan no gadget kalau Intan belum tidur. Nggak dipungkiri memang namanya orang kadang jenuh dan bosen, sesekali akan main hp dan kalau ada Intan sasarannya adalah Youtube. Kami sengaja mendownload beberapa video khusus dia berupa nyanyian. Khususnya lagi lagu yang aku pilih itu pakai bahasa Inggris. Kalau aku lagi ngeblog, Intan akan minta pangku dan minta diputerin video lagu-lagu juga. Ini juga karena kami pernah sekali nyalain komputer dan dia minta pangku. Sama papanya dikasih liat deh lagu-lagu anak. Jadi kalau komputer atau laptop nyala, dia akan minta nyanyi dulu. 

Idealisme aku ini memang nggak saklek banget, jadi kalau kata orang jawa masih bisa di luk dikit lah. Yang aku maksud sih nggak ngasih gadget itu karena dia bisa bermain dengan teman sebaya atau diatasnya. Karena interaksi sosial itu kan penting juga, jadi Intan nggak terpancang dengan hanya spaneng ke hp apalagi udah terlena dengan game. Kalau bisa jangan dulu deh. Aku beruntung tempat dimana Intan diasuh kalau aku tinggal kerja, anak-anaknya kalau main nggak sangu gadget. Setiap kali nengokin buat nenen atau pas jemput, aku akan liat mereka mainan bareng kayak kejar-kejaran, main bola, main kelereng, bahkan main pasaran. Iya, aku rela Intan kotor-kotoran dan basah-basahan sama teman-temannya daripada harus asyik sama game di gadget. 

Meskipun nggak dipungkiri soal gadget kita juga butuh, alangkah baiknya jika sebagai orang tua itu bijak juga dalam penggunaan gadget. Bukannya kami sayang duit trus nggak mau beliin anak gadget, tapi kami nggak mau masa kecil dan perkembangannya menjadi terlalu “individualis” hanya karena keseringan main gadget. Yah, walaupun dia sudah mulai nampak jadi anak yucup sih ya. pengawasan dan kontrol orang tua masih sangat penting. So, kami lebih memilih sebisa mungkin nggak kasih game di gadget dulu deh. 

Kalau begini rasanya malu juga ngeluh liat kamar berantakan mainan dimana-mana. Hahaha.. yah, tanpa bermain gadget dulu, aku berharapnya Intan akan belajar sosialisasi dengan banyak orang, belajar kosa kata dari mendengar percakapan orang, dan banyak sih menurut aku. Eh tapi dia juga bisa protes kalau memang nggak boleh main hp. Dia akan meminta hp dan naruh di meja trus minta main bareng. Anak aku udah bisa gitu. Hahaha.. bahagia donk! Paling batin Intan begini “mama ini, aku main malah asik main hp terus. Aku disini mah, enggak di hp!”  hahaha...

Sudah ah, simpan gadget dulu yuk mah,,, ajak anak main bareng. Karena teknologi nggak bisa merubah kebersamaan keluarga. Ea ea ea.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar