Langsung ke konten utama

Melibatkan Anak Dalam Aktifitas Sehari-Hari

Melibatkan anak dalam aktifitas sehari-hari ~ hemm.. kupikir nggak ada salahnya sih. Karena memang salah satu enaknya dirumah berdua sama intan tuh kita bisa beraktifitas bareng. Memang ada mbah uti sama koko dj rumah belakang, hanya saja Intan setiap kali emak pulang kerja ya maunya sama emak. 

Dia bakal ngekor kemanapun emak pergi. Hahaha..





Disisi laim memang urusan domestik biasa kulakukan sepulang sekolah. Jika Intan bobok, emak akan sangat leluasa mengerjakan pekerjaan itu. Tapi, kalau Intan full power? Duh... Jangan ditanya bagaimana rasanya. 

Sungguh, ini berat kamu nggak akan kuat. Biar aku saja...
*Karena bayar ART aja masih mahal dibanding honorku dari sekolah*

Buibu, memang rasanya seru-seru menggemaskan ya. Jadi, karena keadaan sih ya. Kusering melibatkan Intan dalam beberapa pekerjaan orang dewasa. Dengan catatan, tidak membahayakan dan selalu dalam pengawasan. Sekalian aja ya aku bisa mengenalkan aneka macam pekerjaan rumah yang nantinya dia akan paham, bahkan dia juga harus bertanggung jawab setidaknya untuk dirinya sendiri. 

Well, contohnya seperti ini :

1. Mama mencuci Intan main sabun

Kebiasaan memang sepulang sekolah aku memandikan Intan dan bahkan aku juga sekalian mandi. Selain biar badan seger, istirahat siangnya juga biar enak. Dan sekalian aja nyuci baju kotor gitu. Nah, ini sih biasa kulakukan ya. Jadi Intan ditaruh di ember lengkap dengan mainan dia. Sementara emak ngucek satu per satu. 

Karena intan sekarang sudah mulai paham, dia sering berseloroh "bantuing mama ya...". Sengaja aku memperbolehkan dia ya, sekalian aja latihan dan lihat bagaimana reaksi dia bermain gelembung sabun cucian dan memilih pakaian yang kecil. Aku khususkan pakaian dia dan sabun cucinya yang nggak panas di kulit. Tapi tetap harus dalam pengawasan meski pada akhirnya dia akan tetap ngrecokin. 


2. Mama nyapu Intan ambil ekrak

Iya, aktifitas nyapu itu bikin pegel. Hahaha..Nah, biasanya aktifitas ini dia akan mengikuti dengan sapu yang sama Intan ukurannya gedhean sapunya. Pada akhirnya memang jadi ngotorin lagi, karena diarahin juga masih semaunya sendiri. Nggak masalah sih, disiasatinnya adalah meminta tolong dia untuk ambil ekrak. 

"Dek... Mama tolong ambilkan ekrak ya". Anaknya langsung paham gitu? Haha...ya nggak lah buibu. Awalnya dia mengamati, kemudian dia kepo alat apa yang kubawa. Ya, dijelaskan satu per satu. Ini sapu sambil ditunjukin sapunya, ini kemoceng sambil dilihatin kemocengnya, dan ini ekrak sambil dilohatin juga. Nggak ada goal sih, biar dia kenal aja sama alatnya. 

Begitu dia paham, kucoba donk minta tolong seperti kalimat diatas. Dan dia berlari menuju tempat dimana ekrak itu berada dan dengan susah payah diberikan ke emak. Haha... Bahagiaaa... Rewardnya ucapan terimakasih dan kiss aja dia udah bahagia.


3. Mama masak, Intan kupas bawang putih

What!!!! Kupas bawang putih? Nggak pedih? Haha.. aku sih bodo amat. Ya gimana, dia sibuk minta pisau. Daripada begitu aku sodorin bawang putih dan kubilang "coba dikupas, bisa kan?"

Nah, aktifitas itu justru intan anteng dan bersusah payah kupas bawang putih dengan jari nya. Kalau kupasnya gampang dia bisa, kalau lama dan belum berhasil dia pasti bilang "ma.. dak bica".

Disini memang benar-benar nggak ada paksaan sih ya. Karena niatnya supaya dia anteng aja dan tetap bisa diawasi sih.


4. Memberi makan hewan peliharaan

Di rumah ada ayam. Kalau pagi bangunnya bisa lebih awal, aku suka ngajak Intan untuk memberi makan ayam. Selain supaya mood nya bagus, kegiatan ini biar Intan bisa sayang dengan hewan yang ada di rumah.

Kalau sama bapaknya, dia akan sibuk bantuin kasih makan burung. intan akan menjadi tim paling heboh perkara nangkap jangkrik. Awalnya geli, tapi dia lama-lama berani. Bahkan dia pernah tangannya dicucuk burung jalak. Nangis sih, tapi kami beri penejanan bahwa itu terjadi karena dia kurang hati-hati. So far, sekarang dia lebih terlihat waspada sih ya.

Dan sesi memberi makan burung atau ayam inilah yang jadi favorit Intan.



5. Kalau belanja, intan yang masukin belanjaan ke keranjang.

Untuk aktifitas ini sih koordinasi dan kerjasama aku dan bapaknya. Kami memang ada kegiatan belanja bulanan bersama. Jadi semacam agenda bulanan dimana Intan akunajak sekalian.

Nggak takut kalau anaknya tuman? Emm.. tuman itu semacam ketergantungan ya. Jadi apa-apa ikut gitu. Nah, kami percaya dan yakin sih jika diberi pengertian anak pasti paham. Dan aktifitas belanja bareng itu sebenarnya bukan sekedar belanja.tapi bisa jadi sarana belajar juga.

Maksudnya begini, mama nunjuk barangnya kemudian Intan ambil dan masukin ke keranjang yang dibawa papa. Begitu sampai list belanjaan selesai. Kemudian di kasir, kita bisa mengajarkan namanya budaya antri dan jangan lupa buat bilang terimakasih ke mbak kasirnya.

Urusan reward, kasih aja kesempatan dia ambil jajan kesukaan. Tegas. Kalau satu ya satu aja. Kalau anak minta lebih dan cranky, urusan nanti ya. Nangis di tempat umum ya jangan tengsin. Itu prinsip aku sih, dan bapaknya juga.

Memang kelihatannya kok bisa anak usia dua tahun diajak seperti itu. Bisa kok, asal mau lebih repot aja sih. Karena menurutku, melibatkan anak dalam aktifitas sehari-hari bukan tanpa ada manfaatnya.

Justru..

1. Kita bisa lebih merekatkan bonding orang tua dan anak

2. Anak menjadi keberadaannya lebih diakui. Nggak merasa dicuekin gitu lho.

3. Anak jadi lebih peka. Believe it or not, aku memang belum menyuruh Intan ambil ekrak ketika nyapu. Dia tau-tau kebelakang dan bawa ekrak sambil bilang "ma..ekak ya.." wow!

4. Bukan berarti melarang anak menyentuh ini itu ketika di dapur. Justru dengan mengajak anak di dapur sekalian untuk mengenal benda disekitar dia. Dan bisa menambah kosa kata juga kan?

5. Bisa meminimalisir pemberian gadget dan meminimalisir screening time.

6. Mengajarkan tanggung jawab juga bisa. Misalkan mainan berantakan, kita bisa meminta anak untuk bersama dengan kita merapikan mainannya. Kalau di tolak, ajak aja terus.

7. Sekalian kan ya bermain montesori di rumah.

Jadi begitu buibu. Aku memang terbiasa berdua selama bapak ya belum pulang. Jadi apa-apa ya sama Intan kalau anaknya nggak bobok siang. Repot sih iya, tapi seru. Karena pengalaman seperti ini kang nanti akan dirindukan kalau dia udah besar. Jadi ya, dinikmati saja lah ya.

Komentar

  1. Wah iya betul mbak. Saya sering liat ibu2 atau denger cerita ibu2 yang sudah mengajak anaknya untuk melakukan pekerjaan rumah sejak kecil jadi lebih mandiri ketika sudah besar dan tugas orangtua jadi lebih ringan. Walaupun pasti gemeess apalagi kalau pas bersihn rumah tapi nggak ndang2 beres karena si kecil yang dalam maa curiousity nya ��

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Milna Sahabat Bergizi Intan

Bisa dibilang aku itu seneng buat ngepoin instagram para artis. Gak terkecuali instagram para artis yang sekarang udah jadi mamah muda gitu deh. Bukan maksud mau ngebandingin anak aku sama anak artis, nyama-nyamain atau bagaimana gitu. Pokoknya sih seneng aja dan ada rasa gimana gitu setelah kepo postingan artis terutama soal ngasuh anak.

Intan Pakai Minyak Rambut Urang Aring

Jadi gini, sedikit mau cerita pengalaman jaman kecil mamak yang dibilang gokil ye. Bapakku alias mbah koko nya Intan tuh sosok yang perfect bingit soal penampilan. Terlebih kalau dandanin aku sebelum berangkat sekolah. Kok bukan ibu? ibu mah bagian rambut. Kalau bapak kadang rambut dan bahkan seringnya bedakin. Jadi jangan ditanya gimana hasil dandanan bapak ya. tau kan bedak merk Spalding yang wanginya awet sampai sore, kemasannya putih dan tutupnya merah macam pentholan lolipop itu lah ya. harganya di eraku sekitar 8500 rupiah, seus. Sekarang? Entah aku kok jarang menemukan bedak legend yang menemani masa kecilku. 

Dia Yang Datang Dan Membawa Kepastian

Dia Yang Datang dan Membawa Kepastian ~ hasek! Judulnya ih nggak kuku banget dah. Nggak tau juga kesambet setan mana, yang jelas bawaanya lagi pengen bahas tentang aku sama papa. 
Maaf, nggak maksud nyombong. Apalah kami cuma human biasa ajah. Seleb juga enggak.