Sabtu, 02 Februari 2019

Inilah Alasan Saya Tidak Tarak Pasca Operasi Caesar

Inilah Alasan Saya Tidak Tarak Pasca Operasi Caesar ~ Dari awal mula saya tidak menginginkan lahiran dengan cara operasi. Kehamilan saya di bulan pertama sampai memasuki usia lima bulan dikatakan lancar. Akan tetapi memasuki usia kandungan enam bulan, kondisi janin selalu sungsang. Segala upaya sudah dilakukan baik yang banyak sujud, olahraga, dirangsang dengan suara dan senter dari arah jalan lahir. Semua saya lakukan, sampai pada akhirnya memang Tuhan punya kehendak untuk saya lahiran secara operasi caesar. 


Itupun harus meleset jauh dari tanggal yang sudah saya dan papa sepakati. Malamnya antri periksa untuk janjian operasi tanggal 11 September 2015, eh malam itu juga harus cek CTG karena detak jantung bayi lemah dan harus menginap semalam di ruang VK. Pagi jam 6 dokter visit dan ngasih tau "bu.. puasa ya, jam 8 siap-siap operasi SC".

Takut sih, hanya saja saya berusaha tenang mengingat mbak saya lahiran ketiga anaknya melalui SC semua. Pesan yang saya ingat betul dari mbak adalah "Kamu harus tenang, dan jangan tarak pasca operasi". Tarak? ada yang belum paham ya?

Begini, tarak itu istilah orang Jawa yang mana kita harus tidak memakan makanan tertentu pasca operasi atau memang sedang mengalami suatu penyakit. Bahasa umumnya sih "nyirik makanan" gitu lah ya... Makanan yang harus dihindari ketika tarak adalah makanan amis-amisan atau sebangsa protein hewani. Entah apa alasan pastinya, yang jelas baik ibuku, ibu mertua dan saudara-saudara yang masuk dalam ΓΆrang tua zaman dulu"kaget juga sih karena makanan dari rumah sakit lahap aja saya makan. 

Jadi jatah makan dari rumah sakit itu menunya jelas ada nasi, sayur, lauknya ada sebangsa daging dan tahu tempe bahkan telur. Terus ada susu juga, belum cemilan lainnya. Terjamin sekali dan sayang bianget kalau nggak dimakan. hahaha. Udah dibayar juga!.

Dan kenapa saya tidak nyirik makanan sama sekali terutama bangsa amis-amisan dan tidak melakukan tarak seperti anjuran orang tua zaman dulu?

πŸ˜‹ Butuh asupan protein
Sebagaimana kita tahu, protein berfungsi sebagai zat pembangun dalam tubuh dan mengganti sel-sel tubuh yang rusak. Dokterpun menganjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung protein hewani. Dengan asupan protein yang cukup, luka juga akan terbantu untuk segera sembuh. Nah, banyak menyarankan untuk mengkonsumsi ikan kutuk. Karena kandungan proteinnya lebih banyak dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya. 

πŸ˜‹ Tercukupinya asupan ASI 
Saya percaya dengan memperhatikan asupan makanan dan kandungan gizinya, akan membantu kulitas dan kuantitas ASI yang akan saya berikan untuk Intan. Maka dari itu, dengan tidak melakukan tarak, saat itu yang ada dipikiran saya adalah pokoknya ASI harus keluar dan harus kental.

πŸ˜‹ Ada riwayat alergi makanan tetapi masih dalam kategori aman.
Saya pernah mengalami alergi makan telur puyuh. Sekujur tubuh akan terasa gatal terutama daerah punggung, maka dari itu dalam memilih asupan protein pasca operasi SC saya benar-benar menghindari telur puyuh. Untuk konsumsi telur ayam kampung masih aman, akan tetapi tidak berani dalam jumlah yang banyak. 

😝 Sayang aja makanan dari rumah sakit nggak dimakan. 
hahaha... ini alasan terkonyol saya sebenarnya. Mengingat saya tidak mau rugi karena bayar full tanpa subsidi BPJS. Untungnya masakannya lumayan enak jadi ya nggak ada enegnya sama sekali. Kan mubadzir dan kasihan aja sih sama koki rumah sakit sudah capek-capek nyiapin menu. haahahha.

πŸ˜‹ Ajimumpung buat manja ke suami
Pokoknya kesempatan emas sekali manja sama papa. Apa yang dimau pasti di turutin, kalaupu nggak diturutin ya alesan aja "kan mau cepet sembuh luka bekas operasinya, paaa...."wkwkwkwkw. 


Itu sih alasan mengapa saya tidak melakukan tarak pasca operasi. Mengikuti tradisi zaman dulu sih boleh, tapi kalau aku mending konsultasikan juga sama dokter atau perawat daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar