Kamis, 07 Maret 2019

Dek....


Saya tertegun, memandang wajah ayu nya saat tertidur. Bulu mata yang setengah lentik, bibir mungil turunan papanya, hidung "mbenol" yang mirip mbah kokonya. Dia tertidur pulas bersama boneka kesayangannya.



Pagi ini, pagi kedua yang kami sambut bukan dari kamar kecil rumah kami. Masih dengan suasanya banyak tangisan anak kecil dimana-mana. Masih dengan selimut putih dan ranjang sempit.

"Mama sini.... Ndak boleh jauhh-jauhh.."

Dalam dekapan pelukan ini, dia tampak tenang dan nyaman. Hanya saja diri ini yang terus saja bergejolak. Nanti ngompol lah, digigit nyamuk lah, kalau spreinya kotor nanti di marahin lah..

Ah nduk.... Mbokmu ini kok kebanyakan piya-piye.

Sementara saya lupa bahwasanya dia selalu ada dengan sejuta maafnya. Dia selalu merekam apa yang dilihat dan didengar, dan saya lupa untuk menjadi ibu yang baik untuk dia.


Kalau lagi seperti ini memang bawaanya mellow. Yang terjadi kemarin seolah tampak lagi dihadapan mata. Yang ada adalah menyesal. Iya.. menyesal dek, kenapa mama sejahat ini ke kamu. Menomor duakan kamu yang nyatanya kamu haruslah diutamakan dalam hidup mama.

Dek... Pulang ke rumah yuk... Lebih enak di rumah daripada disini. Sehat yuk... Sepeda kecilmu menanti untuk diajak muter-muter di depan rumah lho.

Maafkan mama ya, dek....

1 komentar:

  1. lagi sakit anaknya mba? semoga cepet sembuh yaaa.. selalu sedih memang kalo anak sakit. apalagi sampe di opnam segala :(

    BalasHapus