Minggu, 02 Juni 2019

#DapurMamaIntan : Memasak Saat Puasa Ibarat Sedang Uji Nyali

#DapurMamaIntan : Memasak Saat Puasa Ibarat Sedang Uji Nyali ~ Kok bisa ma? Hahaha. Ya karena mama masih amatiran dalam hal memasak. Setiap belanja sama budhe Tun tukang sayur langganan pasti nanya resep dulu. Kalau nggak lihat cookpad. Terpujilah kecanggihan teknologi sehingga mau bikin ayam kecap aja harus lihat cookpad dulu.



Mama jadi pengen flashback ketika bulan kedua pernikahan mbah uti sama mbah koko bilang kalau kami harus mandiri dalam urusan dapur. Bingung atulah ya, secara belanja harian itu sungguh boros. Belum lagi masak aja masih yang harus gimana gitu. Ya sudah, berbekal bismillah dan kompor dari kado nikahan, kami siap memiliki dapur sendiri. Masih alakadarnya tapi alhamdulillah mengepul tiap hari.

Ada bagusnya memang keputusan yang disampaikan Mbah Kokonya Intan siang itu. Sekarang mama jadi makin paham selera makan papa. Yaaaa... Agak susah juga karena maunya masakan fresh from the wajan. Kendalanya juga mama malas karena capek wkwkwkwk. Tapi selama puasa ini memang lebih banyak buka puasa di rumah dan lebih sering memasak sendiri ketimbang beli.

Papa suka protes sih... "Kok mama nggak masak sendiri?" Hedewhh...

Nih ya, buat mama saat memasak menu buka puasa itu seperti uji nyali. Memasak yang mama pakai adalah mengandalkan icip mengicip barang satu takaran garam. Kurang tambah lagi sampai nemu yang pas. Lha selama puasa? Boro-boro nyicip, asal cemplung aja. Wkwkwkwk. Karena untuk takaran juga memang belum fasih, jadi hasilnya kadang hambar, kurang asin dikit, keasinan banget juga pernah. Itulah hidup.. masakan nggak selalu enak tapi papa tetap makan. Alhamdulillah ya... Hahahaha.

Selain itu, beberapa kali ngalamin tidur siang tapi bangunnya udah jam 4 sore lebih. Mau masak kan biasanya mepet juga tuh sama waktu buka puasa. Jadi masak seperti orang lagi dikejar maling, serba buru-buru. Bahkan ketika tanda buka puasa udah kedengeran, masih aja goreng mendowan. Hahaha.. salah siapa ya keenakan tidur siang. Saking lemesnya sih karena haus.

Secara nggak langsung dengan keputusan memasak sendiri itu kayak bikin ada alarm di diri sendiri. Seperti ...

✔️ Ngasah kemampuan diri di dapur. Sekalian belajar bedain kencur, kunir, jahe, kunci dan lain-lain

✔️ Belajar management waktu. Karena memasak sendiri memang butuh waktu yang harus dipersiapkan jadi management waktu harus diperhatikan banget. Kelamaan mager ya kelaparan lah. Orang papa nggak termasuk yang suka jajan di luar.

✔️ Mau tidak mau harus lekat dengan dapur dan belanjaan. Ditambah pusing menentukan menu harian. Tapi seru juga loh.

✔️ Management keuangan juga untuk anggaran belanja harian. Harus disesuaikan dengan menu yang sudah dirancang, kalau bisa harus ada sisa supaya bisa jadi tambahan anggaran belanja hari berikutnya.

✔️ Terpenting juga adalah mama mulai bisa memahami selera suami. Memasak porsi kecil, masakan fresh, kalau goreng ayam harus sampai garing, lebih suka ikan air tawar ketimbang ikan air laut, daging lebih suka di sate ketimbang sayur. Gitu-gitu lah pokoknya. Hahaha.

✔️ Dengan masak sendiri, antara mama sama papa biasanya terlibat diskusi soal penilaian masakan yang sudah dimasak. Yang kurang ini, kepedesan atau kurang mantab bumbu rempahnya.

✔️ Eksperimen menu baru untuk dieksekusi. Jadi menunya nggak itu lagi itu lagi.


Meskipun memasak disaat bulan puasa itu kayak uji nyali, tapi tetap saja jadi satu hal yang kalau nggak dilakukan seperti ada yang kurang. Mama pernah mendapat nasehat dari salah seorang teman guru, namanya Bu Ida. Yang seperti ini "buatlah keluarga betah di rumah dengan masakan".

Meskipun mama bukanlah yang lihai di dapur, paling tidak dengan sering mencoba menghidangkan menu masakan di meja makan. Berharapnya papa sama Intan akan menjadi orang yang paling merindukan masakan mama nanti. Meskipun cuma sayur bayam, tempe goreng dan sambal terasi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar