Senin, 11 November 2019

Boleh Makan Permen dan Coklat, asal....


Permen menjadi salah satu magnet bagi anak kecil. Mayoritas anak-anak kalau di tawari permen pasti akan berbinar-binar. Setuju? Ya nggak usah jauh-jauh, masa kecil papa juga begitu. Apalagi mama, katanya giginya sempat gugus karena kebanyakan makan permen. 



Selain karena manis, ketertarikan anak-anak dengan permen itu bisa dari warnanya yang sungguh mencolok dan menarik dipandang mata, bentuknya yang lucu, bahkan iklan di televisi yang mengundang banget untuk di beli. Faktor lainnya adalah hadiah yang ditawarkan di setiap pembelian permen tersebut. Kan ada tuh permennya nggak seberapa enak tapi hadiahnya terbilang bagus. 

Macam-macam permen pun juga beragam banget, seperti permen cicak warna-warni, permen kenyal semacam yupi gitu, marshmellow, permen lolipop, ada juga permen karet atau buble gum. Satu lagi, permen yagh bisa meletup-letup saat di mulut. 

Intan juga lagi di masa apa-apa maunya coklat dan permen. Sudah terpatri donk ya bahwa kebanyakan permen dan coklat bisa memicu giginya gugus. Mbah sih yang sering bilang "permen terus nanti gugus lho, nduk...!". Pesan yang sama dikala papa kecil dulu. 

Perkenalan Intan dengan permen adalah dengan permen yupi yang bentuknya love itu lho dan ada gulanya. Sekitar umur satu tahun deh dia mencoba permen yupi itu. Dilihatin dulu aja deh gambarnya... 

Nah perkenalan dia dengan permen yupi strawbery kiss itu bermula dari Mbak Keisha yang punya dan dia disodorin sebungkus. Awalnya ragu, tapi anaknya mau dan nangis, ya sudah diberi aja dengan banyak pertimbangan dan nanya ke Mama Ning. "Aman kalau permen itu... Gampang digigit dan manisnya masih alami untuk anak-anak". Okelah... Dicoba dan maunya nambah lagi donk buibuuuuu.


Lalu semakin kesini, setiap kali jajan Intan nggak pernah skip untuk beli permen. Dan mulai beragam sih maunya. Permen dengan aneka macam rasa bahkan yang bisa meletup-letup di mulut. Sekelas permen kopiko juga dia doyan, kecuali permen mint akan dia hindari sekali. 

Kadang ada rasa khawatir juga sih saat dia makan permen. Meskipun kebiasaan menggosok gigi sudah rutin di lakukan, ada rasa eman-eman juga kalau giginya dia itu bermasalah. Bukan faktor permennya memang, tapi beberapa kali dia menolak untuk gosok gigi. Kan Mbahnya sering negur "jangan permen terus jajannya! Nanti giginya rusak!" Jadi semacam kegalauan gitu. Bisanya sih sekarang lebih di sounding supaya permintaan beli permen berkurang. 

Boleh makan permen atau coklat, asal :
1. Jenis permen yang ramah di gigi anak-anak. Ya paling aman jelas permen yupi.

2. Gosok gigi setelah makan permen. Wajib hukumnya, kalaupun menolak ya sekalian di tunggu sampai pas waktunya mandi. 

3. Baik setelah makan permen atau coklat, harus minum air putih dan kumur-kumur. Karena dengan berkumur bisa membantu mengangkat sisa makanan atau permen yang menempel di gigi. 

4. Tidak boleh sering-sering diturutin beli permen. Kalaupun merengek bisa dinego untuk beli jajan lainnya. 

5. Diberi pengertian juga ke Intan kalau menjaga dan merawat gigi itu penting. Jadi dengan kalimat sederhana ajak dia untuk merawat giginya. Paling tidak kasih contoh lah film tentang sakit gigi gitu. Supaya anak paham.

Jadi memang kami tidak serta merta melarang dia untuk tidak makan permen. Dunia anak, kok kayaknya nggak adil dulu mamak sama papanya juga asik menikmati manisnya permen. Meskipun ada rasa khawatir, dengan menerapkan disiplin merawat diri salah satunya kebersihan gigi nantinya anak akan paham. Ya nggak? 


Ada tips lain nggak sih yang sedang merasakan anaknya gandrung sama permen?

1 komentar:

  1. Coklat dan permen susah dipisahkan dengan keseharian anak ya, Mbak. Anakku pun dulu begitu. Dan benar, ajari saja anak untuk kumur air putih setelah makan permen atau coklat dan rajin sikat gigi agar giginya tetap terawat. Cuma perlu juga dibatasi sih kalau kelihatan sudah konsumsinya kebanyakan. Soalnya permen dan coklat bisa juga bikin anak merasa kenyang, trus pas waktunya makan besar malah makannya jadi dikit. Oh ya, coba dialihkan dengan nyemil buah juga Mbak. Cukup membantu sih dulu sama anakku

    BalasHapus