Selasa, 03 Desember 2019

Memilih Sekolah Untuk Anak

Memilih Sekolah Untuk Anak~ Topik pembicaraan antara kami belakangan ini memang belum berubah, yaitu masih seputar memilih sekolah untuk Intan. Enam bulan berlalu dan tahun ajran baru kami lewatkan dengan keputusan tidak menyekolahkan Intan di jenjang PAUD. Keputusan yang sebenarnya masih ditentang mama, tetapi akhirnya mama lebih legowo sekarang.


Bukan tanpa alasan sih papa masih berat melepas Intan di jenjang PAUD. Tentang belum bersekolah bisa baca di sini. Kembali ke memilih sekolah ya. Di Purwodadi saat ini jenjang pendidikan anak usia dini pilihannya semakin beragam dan banyak. Ibarat kata sekolah PAUD atau TK seperti jamut di musim penghujan. Tinggal pilih saja mana yang sekiranya cocok (dalam segala hal) tentunya. 


Bagi kami, kriteria memilih sekolah untuk Intan nanti langsung masuk ke jenjang TK terbilang sederhana. Karena kami sadar betul kemampuan keluarga guru honorer ini seperti apa, jadi ketika di luaran sana menurut cerita mama lagi hot bahasan tentang dana pendidikan. Kami cukup diam dan tersenyum dulu aja. Sambil ikhtiar untuk menyiapkan dana pendidikan Intan juga. 

Kriteria bagi kami antara lain: 

1. Jarak tempuh 
Ada di point pertama karena kami sama-sama bekerja dan sebisa mungkin meminimalisir untuk tidak merepotkan orang tua. Dekat rumah ada pilihan sekolah, akan tetapi ada pilihan lain di pusat kota. Waktu tempuh masih bisa dimaklumi, kurang lebihnya 15-20 menit dari rumah. Alasan lain adalah kami tidak mau Intan capek dijalan. 


2. Biaya
Masuk di point ke dua adalah menyoal biaya. Kalau ditelisik lagi memang biaya sekolah untuk jenjang usia dini ternyata histimewa. Pilihan kami cenderung ke TK negeri ataupun swasta dengan biaya yang masih bisa kita jangkau. Ngeri juga ya uang pangkal yang bersaing terutama di sekolah berbasis agama gitu. 


3. Luasnya arena bermain
Kok nggak ke pembelajaran atau gurunya, sih? Hahaha. Bagi kami anak bersekolah di jenjang TK adalah bermain. Jadi kami lebih memilih akses anak untuk leluasa bergerak di lingkup sekolahnya. Karena ada sekolah yang sudah di survey mama, akan tetapi arena bermain sangat sempit dan terbilang bahaya. Lebih baik memilih yang lebih luas dan bisa memfasilitasi Intan yang bisa dikatakan banyak gerak. 


4. Pembelajaran
Sadar betul akan beban pelajaran pelajar di Indonesia, membuat kami seperti parno dulu kalau anak stress di sekolah. Namanya orang tua memang maunya juga membekali agama kepada anak, akan tetapi ada banyak cerita di luaran sana bahwa anak juga banyak yang mogok sekolah karena capek disuruh hafalan terus. Hahaha. 

Bukan kami anti agama, di rumah juga diajarkan secara pelan-pelan tanpa ada paksaan. Untuk pembelajaran cenderung mama yang lebih menghendaki untuk umum saja karena toh kembali ke anaknya lagi. Yang penting dia HAPPY di sekolah. 


Udah sih, empat po

Tidak ada komentar:

Posting Komentar